Berbagi Pengalaman, Ernest Prakasa Apresiasi Salatiga Film Festival 2019

Sineas kreatif nasional, Ernest Prakasa, hadir sebagai bintang utama pada Salatiga Film Festival 2019, di Balairung UKSW, Rabu (27/3/2019) lalu. (UKSW)

UKSW, Sidorejo—Pada acara tahunan Salatiga Film Festival 2019, Komunitas Film Finger Kine Klub Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga menyelenggarakan temu insan perfilman di Balairung UKSW, Rabu (27/3/2019) lalu.

Pada kesempatan kali ini, acara yang bertajuk ‘Hourglass: Do Your Passion, Inspiring Others and Make Your Time Valuable’ disemarakkan oleh kehadiran sineas kreatif nasional, Ernest Prakasa, sebagai bintang utama.

Di hadapan sekira 700 peserta, dengan gaya santai, Ernest mengisahkan perjalanannya selama menekuni dunia perfilman. Pria yang dikenal melalui stand up comedy itu mengaku, salah satu tantangan terberat dalam produksi film adalah me-manage para kru yang terlibat. Menurutnya, seorang sutradara harus memperhatikan keseluruhan komponen film.

“Jadi, tidak hanya memperhatikan acting talent saja. Lokasi istirahat harus dipastikan nyaman, makanan tidak datang tepat waktu bisa membuat akting tidak maksimal. Mengatur orang-orang agar saling mendukung ini menjadi hal utama, karena dalam pembuatan film semua saling memengaruhi,” terang komedian yang semakin banyak dikenal melalui karya film komedi produksinya itu.

Bersamaan dengan talkshow, rangkaian festival diisi pula oleh mini workshop yang menayangkan film-film terbaik karya komunitas film asal Jakarta, Bandung, Salatiga, dan Yogyakarta. Peserta juga diajak berseru-seru nobar film Milly & Mamet karya Ernest Prakasa di samping kehadiran Nur Iswahyudi, Gelora Yudhaswara, dan Nuraziz Widayanto sebagai pembicara dan juri festival film.

Selaku ketua panitia, Tri Wahyu Agustin, berharap, para peserta dapat termotivasi untuk mengembangkan passion-nya.

“Hidup ini cuma sekali. Jadi, lebih baik dilakukan untuk hal yang bermanfaat, mengembangkan passion dan berkarya. Tidak hanya wacana tapi melakukan sesuatu,” terangnya.

Perkembangan Perfilman Indonesia Membanggakan

Mengenai perkembangan film di Indonesia, Ernest mengaku bangga. Ia menyampaikan bahwa film Indonesia ditonton sekitar 47 juta penonton tahun lalu.

Menurutnya, pendongkrak pesatnya perfilman Indonesia adalah bertambahnya jumlah layar. Hal tersebut yang membuat Ernest sering membuka kelas menulis skenario. Sebab, banyaknya layar menjadi tantangan sekaligus kesempatan untuk para filmmaker baru.

Ernest mengungkapkan, banyak penulis tidak sadar bahwa industri film membutuhkan banyak penulis skenario.

“Aku senang sekali kalau kampus membuat festival film, karena Indonesia butuh orang-orang baru,” tuturnya bersemangat.

Ia menambahkan, anak muda yang ingin membuat film agar tidak hanya menjadikannya sebagai wacana.

“Ikut kompetisi film pendek. Karena lewat kompetisi, kita bisa dapat kesempatan ketemu juri-juri yang kompeten,” pesannya. (Kontributor: Rizka Indah Anggraini)

Add Comment