Theofany Zahra, Bidan Alumnus Qaryah Thayyibah Penulis Buku ‘Taman Mimpi di Gubuk Pelangi’

Theofany Zahra saat menyelesaikan pendidikan D3 Kebidanan di Akbid Ar-Rum Salatiga. (Rizka Indah A.)

KALIBENING, Tingkir—Dibesarkan di lingkungan sekolah non-formal, Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah (KBQT), tak membuatnya kehilangan bakat alamiah. Tertarik pada serbaneka dunia kesehatan, pada 2017, bersama rekan satu tim, ia menulis buku ramah anak bertema kesehatan dengan judul Taman Mimpi di Gubuk Pelangi. Mari berkenalan lebih dekat dengan Theofany Zahra.

Keingintahuan Fany, begitu ia akrab disapa, terhadap kesehatan, membuatnya berani melangkah keluar dari zona nyaman. Ia menghabiskan enam tahun pendidikannya, SMP dan SMA, di lingkungan rumah. KBQT adalah tempat di mana ia mulai menjajaki ilmu kesehatan, sebelum akhirnya meneruskan jenjang pendidikan ke Akbid Ar-Rum Salatiga.

Fany sudah tertarik dengan ilmu kesehatan, sejak masih duduk di kelas satu SMA. Ia menganggap, semua orang butuh ilmu kesehatan. Namun, sering kali pula banyak orang yang mengabaikan kesehatannya sendiri.

Selain kesehatan, ia tertarik pada dunia keperempuanan dan psikologi. Ia lantas memilih ilmu kebidanan, karena dirasa bisa menjadi ruang yang cukup untuk semua ketertarikannya.

Pada 2017 lalu, KBQT mendapat undangan berdiskusi bersama teman-teman remaja dari sekolah lain oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud). Melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat, Fany ikut merumuskan modul pembelajaran berbasis kesehatan remaja.

Ia menjelaskan, selama diskusi, ada beberapa tema modul yang dirasa cocok untuk remaja, di antaranya mengenai kesehatan remaja.

“Aku lupa apa saja, tapi aku ingat, usul tentang kesehatan remaja dan disetujui,” ujar Fany yang baru saja menamatkan pendidikan D3-nya di Akademi Kebidanan Ar-Rum Salatiga.

Pada sesi kedua itu, setelah mendapat bimbingan teknis selama dua hari, semua peserta yang tergabung dalam proyek penulisan karya pendidikan remaja, pulang ke daerahnya masing-masing untuk menyelesaikan rancangan mereka.

Selang satu bulan, karya yang sudah diselesaikan kemudian dikirim melalui e-mail dan mendapat balasan dari mentor. Balasan tersebut berupa undangan untuk presentasi secara langsung di hadapan para mentor, teman-teman, dan pemilik program.

Dari 20 karya, hanya 5 di antaranya yang terpilih untuk diterbitkan. Lima karya tersebut kemudian diluncurkan dalam rangkaian acara Festival Karya Anak Remaja yang diselenggarakan Kemdikbud melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat.

Pada festival bertema ‘Anak Berkarya untuk Indonesia Hebat’ yang dihelat pada 28 November 2017 lalu, Fany dan rekan satu tim berhasil merilis sebuah buku berjudul Taman Mimpi di Gubuk Pelangi. Buku ramah anak tersebut diawali dengan tulisan cerita pendek (cerpen) yang dilengkapi artikel, profil, tips kesehatan, dan tantangan-tantangan yang bisa diisi oleh pembaca di halaman-halaman tertentu.

Ajak Teman Turut Andil

Untuk menambah kesan ceria dan muatan buku yang lebih hidup, perempuan kelahiran 26 Desember 1996 ini tidak hanya merancang buku seorang diri. Ia mengajak ilustrator KBQT untuk bekerja sama menggambar paduan yang pas, sehingga isi buku tidak monoton berisi tulisan saja. Ditambahkanlah ilustrasi ceria khas anak-anak.

“Jadi, buku ini tidak hanya karyaku saja, tapi juga karya teman-teman. Aku yang menulis kontennya, ilustrator melengkapinya. Jadi, yang membaca tidak bosan,” ungkap Fany.

Theofany Zahra bersama rekan-rekan tim penulisan buku. (Rizka Indah A.)

Awalnya, ia merasa tertantang menulis sesuatu yang kurang menarik (kesehatan—red) dalam bentuk tulisan fiksi. Namun, setelah mencoba dengan referensi yang ia dapat selama sekolah di KBQT dan Akbid Ar-Rum Salatiga, buku tersebut pun dapat diselesaikan.

Dalam bukunya, Fany mengajak anak-anak dan remaja untuk mengetahui sisi lain kesehatan dengan cara yang berbeda, di mana biasanya kesehatan selalu dikemas dalam bentuk tulisan formal dan baku. Tidak hanya cerpen, Fany juga mencantumkan kolom 4 Pilar Gizi Seimbang untuk menjadi acuan menjaga kesehatan, Tips Membuat Es Krim Buah, Indeks Masa Tubuh, Sehat Hati dan Emosi, Sehat Akal, dan juga tantangan-tantangan yang mengajak pembaca agar lebih peka terhadap kesehatan di lingkungan sekitar.

Secara pribadi, Fany mengakui adanya kendala selama proses penulisan berlangsung. Waktu itu, Fany yang masih berada di bangku kuliah sedang dalam masa-masa sibuk praktik di rumah sakit.

“Aku Cuma punya waktu mengerjakannya setiap bakda subuh. Tapi, aku menikmati prosesnya, karena bagiku, ini benar-benar kesempatan bisa menulis tentang kesehatan tapi dalam gaya tulisan yang santai,” terangnya.

Fany mengaku bangga atas karyanya ini karena buku tersebut akan dibagikan ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Di sisi lain, sambil melanjutkan pendidikan S1-nya di Karya Husada Semarang, ia berniat untuk kembali menulis panduan materi untuk meningkatkan kesehatan remaja yang tidak sekadar kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan emosi dan kesehatan lingkungan.

Ia berharap, festival karya anak negeri bisa dinikmati seluruh remaja yang ada di pelosok Indonesia.

“Bukan hanya di kota-kota besar. Semua remaja bisa merasakan banyak energi positif untuk terus berkarya lagi,” tutur putri kedua dari tiga bersaudara ini. (Kontributor: Rizka Indah Anggraini)

Add Comment