Di Kampung Singkong, Jajan Ndeso Disulap Jadi Kuliner Gedongan

Di kampung singkong Salatiga terdapat lebih dari 30 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) singkong. (Foto: Singkong Keju D9/Instagram)

Argomulyo – Berwisata ke Salatiga tidak lengkap rasanya jika belum ke kampung singkong. Kampung yang berada di Ledok, Argomulyo, Kota Salatiga ini menjadi sentra produksi aneka olahan berbahan singkong, dan menjadi destinasi wisata kuliner di Salatiga. Di sini terdapat lebih dari 30 usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) singkong.

Lokasinya yang strategis berada di dekat jalan besar Solo-Semarang mudah dijangkau oleh wisatawan. Jika dulu yang dikenal hanya Gethuk Kethek, yang diproduksi salah satu warga tepat di pintu masuk kampung, kini wisatawan akan dibuat terpikat oleh olahan singkong yang lebih variatif, seperti singkong keju, singkong coklat, dan lainnya.

Begitu masuk kampung yang berada di sekitar pertigaan ABC Salatiga ini, kita akan langsung melihat sederet usaha warga yang tak jauh-jauh dari singkong. Di kampung ini, kreativitas terbukti menjadi hal penting dalam pengembangan wisata kuliner. Warga di kampung ini berhasil menyulap ketela pohon atau ubi kayu yang diidentikkan dengan makanan ndeso, menjadi aneka kuliner dengan cita rasa modern.

Sebut saja Arif Wibowo. Petani singkong yang juga anggota TNI ini awalnya terinspirasi dari lagu “Singkong dan Keju”. Ia berpikir, mengapa singkong harus dibedakan dan dipisahkan dengan keju, mengapa tidak disatukan saja. Usahanya mengolah singkong juga berangkat dari keprihatinannya melihat nasib para petani singkong yang terus menerus mengalami kerugian.

Pada Agustus 2013 harga jual singkong memang mengalami penurunan drastis, yang harga normalnya Rp 1.900 per kilogram, turun menjadi Rp 300 per kilogram. Akibatnya, ada banyak petani, termasuk dirinya yang benar-benar terpukul lantaran antara biaya produksi dan hasil usaha singkong berbanding terbalik.

“Memang ada yang tetap menjual walau rugi. Ada yang memanen secara bertahap dan hasil panennya untuk makan sapi, sehingga secara tidak langsung dapat untung beupa susi sapi berkualitas,” ujarnya.

Di tangan Arif, singkong seharga Rp 2 ribu per kilogram naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram di tahun itu. Ia bersama keluarga mencoba mengembangkan wirausaha bernama Cassava Salatiga, dengan mengolah singkong mentah menjadi singkong keju siap saji bercita rasa empuk, gurih, asin, dan manis. Produknya pun beraneka ragam, mulai dari singkong keju, keju coklat, hingga criping singkong alay.

“Itulah salah satu model ekonomi kreatif dan inovatif. Bukan menjual bahan mentah, tetapi bahan jadi, sehingga punya nilai ekonomi tinggi,” tandasnya.

Arif mencoba mengubah citra singkong sebagai makanan kampung menjadi makanan orang gedongan. Maka tak heran, banyak pembeli yang datang dari kalangan pejabat hingga konglomerat. Di samping itu, nasib petani singkong juga menjadi lebih baik. Lantaran mulai kekurangan bahan baku, Arif pun mulai menyewa lahan tidur dan mempekerjakan banyak petani, sehingga menambah pendapatan mereka.

Kekuatan Wisata Kuliner

Ada juga usaha olahan singkong milik Hardadi. Usahanya melalui Singkong Keju D-9 ini patut dihargai, karena bukan saja kreatif tetapi sekaligus mempromosikan kearifan pangan lokal, serta menjadi salah satu kekuatan di sebuah destinasi wisata kuliner.

Singkong Keju D-9 itu awalnya hanya dijual melalui gerobak di Lapangan Pancasila. Kemudian mulai menetap di rumahnya dengan etalase seadanya dan produksi yang terbatas. Namun lambat laun, usaha yang dirintis bersama sang istri itu semakin terkenal dan mengundang banyak pembeli lantaran gethok tular alias dari mulut ke mulut.

“Intinya bukan modal besar, tetapi semangat, tekun, serta pantang menyerah. Selain itu tidak malu, jangan gengsi, selagi usaha itu baik” ujar Hardadi.

Berkat keteguhannya, usaha Singkong Keju D-9 kini mempekerjakan ratusan karyawan. Ia dan istrinya yakin, usaha akan berhasil apabila mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar.

Tidak hanya singkong keju yang bisa ditemukan di usaha milik Hardadi, aneka produk olahan lainnya pun disuguhkan, seperti singkong keju mayonais, singkong keju daging sapi lapis keju, singkong keju tuna, burger telo, puncake telo, perkedel singkong saus semur, paket oblok-oblok daun singkong, roll telo udang asam manis, telo chicken crispy, dan masih banyak lagi.

“Ada juga singkong frozen siap goreng yang jadi keunggulan lain di sini. Biasanya paling disukai konsumen dari luar kota untuk dijadikan oleh-oleh,” bebernya.

Jika saat mudik lebaran kemarin belum sempat mampir ke kampung singkong, Anda bisa mengagendakannya pada kesempatan liburan selanjutnya. Akses ke kampung singkong ini sangat mudah karena lokasinya tak begitu jauh dari pintu tol Salatiga.

Add Comment