Kadistan: Panen di Salatiga Ikut Kontribusi Swasembada Pangan

Kadistan Muta’in mengatakan, di daerah Kota seperti Salatiga juga ikut berkontribusi pada swasembada pangan. (Foto: Kodim Salatiga)

Tingkir – Pada umumnya, orang akan mengatakan bahwa kota merupakan daerah yang banyak diisi dengan bangunan dan aspal jalan. Namun pada kenyataannya, itu tidak terjadi di semua Kota di Indonesia. Beberapa tahun lalu, pemerintah kerap melakukan impor beras lantaran stok berkurang akibat panen terbatas. Namun kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) dengan melaksanakan Upaya Khusus (Upsus) didukung kebijakan pangan lainnya, telah mengubah kebiasaan impor sebelumnya menjadi tanpa impor sama sekali.

Sejak awal 2018, panen padi terjadi di mana-mana, bahkan di daerah Kota seperti Salatiga juga ikut berkontribusi pada swasembada pangan. Kepala Dinas Pertanian (Kadistan) Kota Salatiga Muta’in mengatakan, beberapa lokasi yang diamati panen terjadi setidaknya daerah Kalibening, Tingkir maupun Kauman Kidul dan Pulutan, Sidorejo.

“Panen di Pulutan sekitar 5 ha. Sawah pada daerah Pulutan ini merupakan bagian dari hamparan luas sekitar 100 ha, yang mana sebagian termasuk wilayah Kabupaten Semarang,” terangnya.

Dalam budidaya padi, pihaknya terus melakukan pembinaan dan dukungan kepada para petani agar dapat menerapkan teknologi budidaya terbaik. Beberapa Varietas Unggul Lokal seperti IR 64 masih ditanam di beberapa lokasi seperti Desa Kalibening, Tingkir. Namun petani Desa Pulutan menanam Varietas Unggul Lokal sepeti Pandan Wangi dan Umbul.

Dinas Pertanian juga terus mengupayakan pembangunan sarana dan prasarana serta infrastruktur penunjang antara lain meliputi pembangunan jalan usaha tani, pompanisasi air permukaan tanah, pengadaan mesin teknologi tepat guna, dan perbaikan gedung penyuluhan pertanian. Menurut Kadis, pembangunan sarana dan prasarana serta infrastruktur penunjang mendesak dilakukan guna melancarkan mobilisasi petani dan menunjang pelaksanaan program yang terencana.

“Jika akses jalan menuju areal persawahan baik, tentunya akan memudahkan dan mempercepat petani dalam mengolah sawah. Dengan demikian, pola tanam bisa dilakukan dengan baik,” ujarnya.

Perlu Sinergi Antara Pemerintah dan Masyarakat

Sementara itu, Pjs. Ketua Serikat Paguyuban Petani Qaryah Thayyibah (SPPQT) Mujab menyebutkan, Dinas Pangan dan Dinas Pertanian Kota Salatiga penting untuk bersinergi dan mengelola segenap potensi yang ada di Salatiga baik berupa lahan, sumber daya manusia, hingga potensi yang berkaitan dengan kedaulatan pangan.

Salain itu, kedaulatan pangan Kota Salatiga akan berhasil jika mendapatkan dukungan dari masyarakat. Dukungan masyarakat tumbuh saat mereka melihat bahwa usaha bertani tanaman pangan memiliki prospek secara ekonomi. Dinas pertanian perlu meningkatkan kemampuan petani dan para pendampingnya untuk menumbuhkan dukungan dari masyarakat.

“Seandainya pemerintah melalui Dinas Pertanian bisa membantu petani sehingga produksi padi 10 ton per hektare tentu petani akan suka bertani padi,” katanya.

Menurut Mujab, Dinas Pertanian dan Dinas Pangan perlu usaha keras mengambil hati warga untuk berkontribusi, berinvestasi, dan menjatuhkan pilihan untuk bergiat dalam bertani dan tanaman pangan agar kedaulatan pangan tidak tumbang di Salatiga. Masyarakat perlu dibekali bagaimana menciptakan peluang-peluang ekonomi dari sektor ini agar tidak tertinggal dengan sektor lainnya.

Begitu pula dengan dinas lain seperti Dinas Tenaga Kerja bisa memberikan pelatihan pertanian yang baik, sehingga petani bisa meningkatkan kemampuan bertaninya dan produk yang dihasilkan bisa memiliki daya saing di pasar pangan. Dinas Perindustrian bisa mendorong pertumbuhan dan perkembangan industri olahan produk pertanian dan memberikan pendampingan bagi para pelaku usaha dalam pemenuhan persyaratan pengurusan perizinan, sehingga usaha bisa berjalan dengan lancar dan memberikan nilai tambah lebih.

“Dinas Koperasi dan UMKM bisa memberikan dukungan modal, pelatihan manajemen, pelatihan membangun jaringan pasar dan lain sebagainya, agar para pemuda juga tertarik untuk bertani dan menanam tanaman pangan,” imbuh Mujab.

Perihal pertanian, Presiden Joko Widodo pernah memberikan pesan kepada para petani di Salatiga. Presiden berharap, petani melakukan perkembangan dalam memproduksi hasil taninya. Menurutnya, dalam meningkatkan kesejahteraan, petani jangan hanya berkutat di produksi saja.

“Sebab keuntungan terbesar ada pada proses agrobisnisnya. Di Qaryah Thayyibah sudah betul mengkonsolidasikan petani dalam kelompok besar, sudah besar ada jamaah produksi,” katanya saat berkunjung ke Kecamatan Tingkir.

Menurut Presiden, kelompok petani tersebut harus menjadi organisasi sebagi perusahaan pertanian. Dirinya juga berharap agar kelompok petani memiliki bagian pemasaran sendiri, sehingga bisa memanfaatkan keuntungan yang lebih besar.

Add Comment