Kaum Muda Miliki Peran Penting Kelola Pariwisata

Seminar nasional kepariwisataan oleh Program Studi Destinasi Pariwisata Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) di Balairung UKSW. (Foto: uksw.edu)

Salatiga – Salah satu kunci dalam mengelola dan mengembangkan destinasi pariwisata adalah keterlibatan anak muda. Hal ini disampaikan oleh Sugeng Handoko selaku narasumber dalam seminar nasional kepariwisataan yang diselenggarakan oleh Program Studi Destinasi Pariwisata Fakultas Interdisiplin Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Rabu (22/5/2019).

“Kalau yang muda memilih kerja di kota, sedangkan yang tertinggal hanya orang-orang tua sebagai petani, maka desa tidak akan berkembang, bahkan dilirik wisatawan. Padahal jika dilihat lebih dalam ada banyak potensi yang bisa dikembangkan,” terang pria yang pernah menerima penghargaan Culturepreneur Award ini.

Sugeng menyampaikan, proses pengelolaan dan pengembangan destinasi pariwisata sebenarnya tidak sulit. Setidaknya ada tiga tahapan yang pernah ia lalui ketika mengembangkan wilayah Nglanggeran menjadi desa wisata. Ia menuturkan, awalnya desa yang berada di kawasan Gunung Kidul ini merupakan daerah tandus dan mayoritas masyarakat bekerja di luar daerah dan sebagai petani.

Menurutnya, apabila sebuah daerah sudah memiliki potensi, maka yang perlu dilakukan adalah mengelola sumber daya manusia yang ada serta mencari media yang cocok sebagai sarana promosi. Hal tersebut penting diperhatikan untuk mengembangkan sebuah daerah menjadi destinasi wisata.

Sugeng mengajak para kaum milenial untuk berkontribusi bagi masyarakat, seperti yang dilakukannya saat ini dapat disebut sebagai social enterpreneur. Ia mengaku turut mengembangkan desa wisata Nglanggeran sejak semester tiga semasa kuliah.

“Mari melihat masalah untuk diubah menjadi peluang bisnis yang bermanfaat bagi pemberdayaan masyarakat. Sehingga tujuan utama bukanlah profit, melainkan berdampak positif bagi masyarakat dan mampu mengatasi masalah sebuah daerah,” lanjutnya.

Mempromosikan Pariwisata

Naya Anindita selaku narasumber lainnya melihat bahwa pariwisata Indonesia tidak kalah dengan negara-negara berkembang lainnya. Melalui program jalan-jalan di salah satu stasiun TV swasta yang pernah ia garap, Alumnus Jurusan Komunikasi Massa Curtin University Australia ini mencoba memasarkan pariwisata melalui video dan film. Menurutnya, cara ini cukup efektif untuk memperkenalkan destinasi wisata sebuah daerah.

“Di Indonesia banyak juga film yang sukses meningkatkan jumlah pengunjung suatu daerah wisata seperti film ‘5 cm’,” ujar sutradara film “Berangkat” yang mengangkat pariwisata di Banyuwangi dan Bali ini.

Menurutnya, hal yang perlu diperhatikan saat akan mempromosikan potensi sebuah daerah wisata yaitu ide yang jelas dan disertai riset, pemilihan segmentasi penonton, detail konsep, serta karakter host yang mendukung acara.

Narasumber ketiga, Petra G. Michael menuturkan hal serupa, bahwa untuk menyukseskan sebuah acara yang memperkenalkan wisata suatu daerah tidak lepas dari adanya riset. Sebagai seorang host, ia tidak sekadar mengikuti arahan sutradara maupun konseptor, tetapi terlebih dahulu melakukan riset.

Anak muda membutuhkan inovasi dan kreativitas dalam memulau aksi sebagai pendukung promosi destinasi wisata. Pria yang akrab disapa Jebraw ini mengatakan, pada dasarnya setiap pribadi mempunyai kreativitas, namun kerap dikalahkan oleh rasa takut, ragu, dan suka membandingkan karyanya dengan milik orang lain.

“Musuh kreativitas adalah diri sendiri. Mahasiswa UKSW dapat memulai menggerakkan potensi wisata daerah dimulai dari lingkungan terdekat, misalnya berinovasi dengan potensi wisata dan kuliner unggulan Kota Salatiga,” jelasnya.

Add Comment