Salatiga Terus Dukung Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif

Peserta Talkshow dan Workshop Pendidikan Inklusif di Gedung Setda Kota Salatiga, Senin (27/5/2019). (Foto: humassetdasala3/instagram)

Salatiga – Wali Kota Yulianto mengharapkan semua sekolah di Kota Salatiga bisa menjadi sekolah inklusif. Hal ini tentunya dengan didukung semua pihak, sehingga tujuan memberikan kesempatan seluas-luasnya dan mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keberagaman dan tidak diskrimantif dapat tercapai.

Menurut Yulianto, implementasi dari tujuan tersebut yaitu dengan memberikan pendidikan yang sama bagi anak berkebutuhan khusus (ABK) maupun difabel. Untuk itu, pemerintah, sekolah, masyarakat, orang tua, serta pemerhati pendidikan sengat dibutuhkan kolaborasinya dalam mewujudkan penyelenggaraan sekolah inklusif.

“SLB tentu saja bisa menjadi mitra rujukan bagi sekolah inklusif. Penyedia sarana yang rama bagi difabel juga perlu mendapat perhatian khusus,” tutur Wali Kota dalam Talkshow dan Workshop Pendidikan Inklusif di Gedung Setda Kota Salatiga, Senin (27/5/2019).

Saat ini pihaknya membutuhkan peran serta masyarakat untuk ikut serta menyelesaikan masalah-masalah yang ada, terutama berkaitan dengan sumber daya manusia. Yulianto sangat mengapresiasi komunitas pendidikan yang ada di Salatiga, terutama para pemerhati anak-anak difabel yang telah membantu Pemkot dalam menyelesaikan masalah tersebut.

“Permasalahan kekurangan sumber daya manusia sebagai guru pendamping khusus atau shadow teacher memang membutuhkan peran serta masyarakat,” sambungnya.

Memanusiakan Manusia

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Yuni Ambarwati menerangkan, pihaknya telah mengakomodir anak-anak berkebutuhan khusus sesuai dengan zonasi yang telah ditetapkan. Hal ini penting dilakukan karena pada prinsipnya semua anak berhak memperoleh pendidikan yang bermutu tanpa diskriminasi.

“Semua sekolah harus menerima anak-anak berkebutuhan khusus,” tegasnya.

Pendidikan inklusif pada dasarnya, imbuh Yuni, merupakan konsep ideal yang memberikan kesempatan dan peluang sepenuhnya kepada anak berkebutuhan khusus untuk mendapatkan haknya sebagai warga negara. Untuk itu, dinas pendidikan mengambil peran secara aktif dalam hal tersebut.

Secara tidak langsung, pendidikan inklusif menekankan anak didik pada ruang yang tidak mengekang akan perkembangan zaman. Sehingga dapat mewujudkan anak kerkebutuhan khusus sebagai individu yang mandiri, kreatif, dapat berinteraksi, cerdas, dan berkarakter.

“Semoga ke depan semakin baik visi pemerintah dalam memajukan pendidikan yang memanusiakan manusia,” ujar Yuni.

Add Comment