Walkot Optimis Salatiga Berpotensi Jadi Kota Wisata

Wali Kota Yulianto menyatakan bahwa Kota Salatiga berpotensi sebagai kota wisata serta untuk pengembangan di sektor jasa berdasarkan data BPS. (Foto: Pemprov Jawa Tengah)

Sidorejo – Wali Kota Yulianto menyatakan bahwa Kota Salatiga berpotensi sebagai kota wisata serta untuk pengembangan di sektor jasa. Pernyataannya itu disampaikan berdasarkan data statistik dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Salatiga.

“Itu mengapa kami katakan BPS sangat berperan penting. Dari data itu setidaknya dapat menjadi pegangan pemerintah untuk melakukan berbagai perencanaan secara terukur dan terprogram,” ujar Walkot di Hotel Grand Wahid Salatiga.

Yulianto menyebutkan bukti konkret dari pernyataannya tersebut, yang bisa dilihat dari banyaknya mahasiswa dari berbagai daerah maupun wisatawan yang singgah di kotanya. Dari kedua unsur tersebut, maka secara otomatis perekonomian masyarakat pun ikut meningkat. Setiap tahunnya, ribuan pendatang berstatus pelajar maupun mahasiswa berada di Salatiga untuk menimba ilmu. Mereka rata-rata menetap paling cepat selama empat tahun.

“Apabila dihitung secara kasar, sebagai contoh jumlah mahasiswa di Universitas Kristen Satya Wacana sekitar 16 ribu. Lalu mahasiswa IAIN Salatiga sekitar 13 ribu. Belum lagi kampus lainnya yang diperkirakan ada sekitar 30 ribu mahasiswa,” terangnya.

Dirinya melanjutkan, jika dihitung, setidaknya satu mahasiswa yang datang ke kotanya di tiap bulan membawa uang saku sekitar Rp 1 juta untuk pemenuhan kebutuhan. Sedangkan jumlah mereka ada sekitar 59 ribu orang. Hitungan kasarnya, ucap Walkot, di tiap bulan dana yang berputar di Kota Salatiga dari mahasiswa saja mencapai sekitar Rp 59 miliar. Jika dikalikan selama satu tahun, jumlahnya bisa mencapai sekitar Rp 708 miliar.

Dari contoh konkret tersebut, imbuhnya, ada multiplier efek cukup tinggi dalam pertumbuhan ekonomi di Kota Salatiga. Apalagi di Salatiga juga dikenal sebagai kota jasa, pendidikan, wisata kuliner, hingga olah raga. Untuk itu sektor pariwisata pada zaman ini sangat berperan besar guna mendongkrak perekonomian.

“Apa yang kami sampaikan itu bukan sekadar klaim. Data-data tersebut secara leluasa dapat dilihat memalui App Store di One Touch Statistic Jawa Tengah,” tegasnya.

Melihat dan Memanfaatkan Potensi

Kota Salatiga terletak pada jalur transportasi regional utama Jawa Tengah yaitu antara Kota Semarang dan Kota Surakarta, di mana daerah tersebut sedang berkembang, terutama Kota Semarang yang menjadi kawasan andalan bagi daerah sekitarnya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Bayu Wijaya dan Hastarini Dwi Atmanti (2016) yang berjudul Analisis Pengembangan Wilayah dan Sektor Potensial Guna Mendorong Pembangunan di Kota Salatiga, kondisi ini memungkinkan Kota Salatiga memiliki beberapa keuntungan.

Pertama, Kota Salatiga akan berperan sebagai kota transit bagi para pelaku perjalanan antara Semarang dan Surakarta. Dengan demikian, akan mendorong perkembangan sektor perdagangan dan jasa, terutama dalam distribusi produk dan potensi lokal.

Kedua, Kota Salatiga berperan sebagai terminal (pusat) perdagangan hasil pertanian bagi daerah sekitarnya, penyedia alat-alat dan input bagi kegiatan pertanian, serta sebagai pusat industri pengolahan pertanian. Peran ini didukung oleh keberadaan wilayah sekitar yang sangat potensial bagi pengembangan pertanian, baik tanaman pangan, buah, sayuran, dan hasil kebun lainnya. Keberhasilan peran ini akan membentuk suatu hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang.

Ketiga, kota ini berimpit pada kawasan pusat pengembangan di Provinsi Jateng (Kedungsepur dan Joglosemar). Kebijakan pada wilayah-wilayah tersebut akan membuka peluang besar bagi Kota Salatiga untuk lebih berkembang, terutama bagi sektor-sektor pertanian, perdagangan dan jasa, industri dan pariwisata.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Salatiga Sri Danurjo melengkapi, infrastruktur pariwisata Salatiga sudah sangat layak. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya hotel berbintang dengan okupansi cukup tinggi. Ia mengatakan bahwa pemerintah siap memfasilitasi komunitas-komunitas kreatif yang ingin turut memajukan Salatiga, terutama di sektor pariwisata.

“Sinergi dan kerja sama lintas stakeholder dibutuhkan karena wisata itu menyangkut semua lini,” tuturnya.

Secara terpisah, Asisten Deputi Pengembangan SDM Kepariwisataan Kemenpar Wisnu Bawa memaparkan, pariwisata kerap kali dipersepsikan sebagai mesin penggerak ekonomi bagi pembangunan di suatu daerah. Namun kenyataannya, pariwisata memiliki spektrum fundamental pembangunan yang lebih luas, di antaranya sebagai alat persatuan dan kesatuan, penghapusan kemiskinan, pembangunan berkesinambungan, dan peningkatan ekonomi juga industri.

“Untuk menunjang pembangunan pariwisata tentunya harus didukung dengan peningkatan sumber daya yang salah satunya adalah SDM,” tuturnya.

Oleh karena itu, katanya, Menteri Pariwisata dalam setiap kesempatan selalu berpesan, SDM pariwisata harus menggunakan standar global yang mengacu pada standar regional ASEAN Mutual Recognition Arrangement (MRA) atau standar kompetensi selevel ASEAN.

“Kalau ingin menjadi pemain global, maka gunakan global standard juga,” tegasnya.

Add Comment