“Aku Bangga Aku Tahu” ajak Remaja Peduli Kesehatan Diri

Pemateri dari Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Salatiga menyampaikan materi di hadapan para siswa yang mengenakan pita merah sebagai simbol HIV/AIDS, di SMPN 6 Salatiga. (Foto : DKK Salatiga)

Argomulyo – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) menjadi momen penting bagi Komisi Penanggulangan Aids Daerah (KPAD) Kota Salatiga. Pengelola Program KPAD Salatiga, Rahayunis Permatasari, membawakan materi HIV/AIDS dan kesehatan remaja bertajuk “Aku Bangga Aku tahu” di SMPN 6 Salatiga, Senin (15/7/2019).

“Di awal usia remaja, siswa SMP memasuki fase penting dalam tumbuh kembang. Di masa ini terjadi perubahan psikis, di antaranya mulai timbul rasa tertarik dengan lawan jenis,” jelas Rahayunis dalam sambutannya.

Rahayunis berpendapat, di usia remaja terjadi perubahan fisik yang dipengaruhi oleh hormon, terutama hormon reproduksi, sehingga edukasi sedini mungkin menjadi penting untuk meningkatkan pengetahuan remaja.

Rangkaian sosialisasi dimulai dengan siswa mengerjakan pre-tes, penyampaian materi serta menonton video kesehatan, dan diakhiri dengan siswa mengerjakan pos-tes. Hal tersebut guna mengukur peningkatan pengetahuan siswa sebelu mdan sesudah materi.

Dilansir dari dinkes.salatiga.go.id, kegiatan tersebut sebagai langkah pemberdayaan siswa agar menjaga kesehatan diri, sekolah, dan lingkungan sekitar. Selain SMPN 6 Salatiga, “Aku Bangga Aku Tahu” jiuga akan terus berlanjut di MPLS MTS/SMP se-Salatiga sesuai jadwal.

“Semoga bisa meningkatkan pengetahuan semua siswa tentang HIV/AIDS dan masalah kesehatan remaja. Sehingga mereka bisa melakukan pencegahan secara mandiri dengan menerapkan perilaku hidup sehat,” terangnya.

Sosialisasi Cegah Peningkatan HIV/AIDS pada Remaja

Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia tahun 2016, terdapat 220 ribu kasus HIV, termasuk 28 ribu kasus baru dan 21 persennya terjadi pada remaja. Sementara untuk HIV, sebanyak 83 ribu dengan empat ribu kasus baru di mana 30 persennya tergolong remaja.

Ahli Keshatan Masyarakat dari Yayasan Pelita Ilmu (YPI), Usep Salahudin, menyampaikan, pengenalan HIV/AIDS bisa dilakukan sejak anak masih di bangku sekolah. Dimulai dengan mengenalkan HIV sebagai salah satu penyakit yang disebabkan virus ketika masih SD. Lalu saat memasuki remaja mulai diperkenalkan penularannya.

“Edukasi soal HIV/AIDS penting diberikan ke anak, supaya mereka bisa mencegah. Apalgi, penularan HIV/AIDS juga sekarang cukup banyak terjadi pada remaja,” jelas Usep.

Usep menuturkan, di tahun 2017, YPI sudah memberikan pendampingan terhadap sekitar 200 remaja dari berbagai kalangan, dari kalangan bawah dan atas. Umumnya, mereka mengalami penularan sebab pemakaian jarum suntik maupun melalui ibu (dari ibu yang menggidap HIV/AIDS ke janin atau bayi).

“Kebanyakan usia sekolah dan mahasiswa. Kalau mahasiswa, dia sudah usia 18 tahun jadi bisa melakukan tes sendiri. Tapi, berdasarkan pengalaman, kasus HIV pada remaja makin meningkat,” ungkapnya.

Selain peran lembaga sosial, Usep menyampaikan bahwa perhatian orang tua pada anak juga bisa menjadi cara pencegahan HIV/AIDS. Keterbukaan, komunikasi, dan kedekatan menjadi cara agar orang tua dapat menginformasikan kesehatan repoduksi.

“Edukasi HIV/AIDS juga bisa diberikan ayah dan ibu dengan memberi info yang benar pada anak. Misalnya, bagaimana HIV/AIDS bisa menular, sehingga anak tidak memiliki pemahaman yang keliru soal HIV/AIDS itu sendiri,” terangnya.

Add Comment