Dinas Perdagangan Salatiga Dorong UMKM Ekspor

Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Salatiga adakan “Sosialisasi Pengembangan Ekspor dan Peluang Pasar bagi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah”, Selasa (16/4/2019). (Foto : Disdag Salatiga)

Sidomukti – Pemerintah bertanggungjawab terhadap kesejahteraan rakyat, termasuk berkontribusi dalam meningkatkan kualitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM). Melalui Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Salatiga, para pemilik UMKM mendapat arahan dalam kegiatan Sosialisasi Pengembangan Ekspor dan Peluang Pasar bagi Pelaku Usaha Kecil dan Menengah”, Selasa (16/4/2019) lalu.

Plt Kepala Disdag Kota Salatiga, Ardiyantara, menyampaikan gambaran umum dan kebijakan ekspor bagi UMKM di Salatiga. Secara umum, disampaikan bahwa UMKM memiliki peran yang strategis sebagai pemain utama kegiatan perekonomian di berbagai sektor.

Menurutnya, saat ini UMKM juga berperan penting dalam pengembangan kegiatan lokal, pemberdayaan masyarakat, menciptakan pasar baru, dan sumber inovasi. Dengan begitu, UMKM dapat membentuk tren ekonomi lokal yang tidak bergantung kepada produk impor, namun berposisi sebagai produsen kelas ekspor.

Ardiyantara menuturkan, strategi pemberdayaan UMKM merujuk pada Kebijakan Nasional Bidang UMKM dan Koperasi Tahun 2015-2019. Dengan memperhatikan tantangan dan sasaran pengembangan UMKM ke depan meningkatkan produktivitas, kelayakan dan nilai tambah koperasi dan UMKM. Sehingga mampu tumbuh pada skala yang lebih besar dan berdaya saing,” ujarnya seperti dikutip dari disdag.salatiga.go.id.

Communication Skill untuk Menuju UMKM Kelas Ekspor

Pada 2015 lalu, Direktur Pengembangan Pasar dan Informasi Ekspor Kementerian Perdagangan, Ari Satria, menyampaikan empat langkah UMKM menuju pasar internasional. Yaitu, persiapan administrasi, legalitas sebagai eksportir, persiapan produk ekspor, dan persiapan operasional.

Terkait dengan langkah-langkah tersebut, Ari mengaku bahwa pemerintah sudah banyak melakukan pendekatan kepada masyarakat. Seperti diadakannya sosialisasi maupun pelatihan. Namun, hal tersebut bukan berarti berjalan tanpa kendala.

Ari menambahkan, bahwa pelaku usaha belum cukup mumpuni dalam berkomunikasi dengan pembeli selama proses bisnis berlangsung. Pelaku usaha juga dinilai belum memahami pentingnya kontrak bisnis untuk menghindari perselisihan dagang.

Untuk menangani masalah tersebut, pihaknya terus mendorong pelaku usaha agar mengikuti berbagai program dan memanfaatkan fasilitas dari Kementerian Perdagangan. Seperti layanan satu pintu Customer Service Centre (CSC) dan Designer Dispatch Service (DDS).

Dikutip dari bisnis.com, kedepannya, Ari berharap pelaku usaha bisa menyesuaikan produk dengan selera pasar. Mempertimbangkan desain produk, preferensi konsumen, hingga standar produk dan kebijakan perdagangan yang berlaku.

“Pelaku usaha juga harus mengubah mindset menjadi aktif, agresif, dan, kreatif. Dari awalnya menunggu pembeli menjadi menjemput pembeli,” ujarnya.

Add Comment