Dinkes Salatiga Adakan Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS

Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Salatiga berfoto bersama peserta dan Warga Peduli AIDS (WPA) dalam kegiatan Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulan HIV/AIDS, Sabtu (6/7/2019). (Foto : Dinas Kesehatan Kota Salatiga)

SidorejoGuna menanggulangi maraknya penularan HIV di masyarakat, terutama pada ibu hamil, Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Salatiga mengadakan Roadshow Sosialisasi Pencegahan dan Penanggulangan HIV/AIDS, Sabtu (6/7/2019).

Bertempat di Aula Kelurahan Blotongan, sebanyak 30 ibu hamil diberikan pengetahuan seputar HIV/AIDS dan Hepatitis. Sebagai pembicara, dr. Andreas dari Puskesmas Sidorejo Lor, menyampaikan amanat Peraturan Kementerian Kesehatan (Permenkes) Nomor 21 Tahun 2003.

Bersama Warga Peduli AIDS (WPA) Kecamatan Sidorejo, dilansir dari Dinas Kesehatan Kota Salatiga, peserta juga mendapat penyuluhan dan sosialisasi Voluntary Counselling and Testing (VCT), yakni konseling dan tes HIV sukarela secara gratis di puskesmas. Layanan itu bertujuan untuk membantu pencegahan, perawatan, dan pengobatan bagi penderita HIV/AIDS.

“Ibu hamil wajib discreening HIV melalui VCT untuk mengetahui status HIVnya. Sehingga dapat mencegah penularan HIV dari ibu hamil ke janin. Jangan malu dan ragu untuk cek VCT, tahu statusnya lebih baik. Cegah HIV/AIDS sebelum terlambat,” ajak dr. Andreas kepada peserta.

Pentingnya Sosialisasi Pencegahan HIV/AIDS

Dalam kegiatan Sosialisasi dan Penanggulangan HIV/AIDS di SMKN 1 Purbalingga, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Purbalingga, R Heny Ruslanto, menyatakan empat tujuan khusus diadakan sosialisasi HIV/AIDS kepada masyarakat.

Pertama, meningkatkan kebersamaan dari pemerintah untuk melakukan percepatan pencapaian program HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS). Kedua, untuk meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS dan PIMS.

Ketiga, untuk menormalisasi isu HIV/AIDS agar masyarakat memiliki persepsi yang positif serta dapat menurunkan stigma dan diskriminasi. Dan yang terakhir, meningkatkan kepedulian masyarakat tentang pentingnya tes VCT dan pengobatan ARV bagi ODHA sejak dini.

Menurut Heny, untuk menyempurnakan sosialisasi pecegahan HIV/AIDS, diperlukan partisipasi aktif dari seluruh komponen masyarakat untuk bersama-sama mengendalikan HIV/AIDS.

“Maka diperlukan adanya kebijakan dan strategi nasional yang disepakati oleh semua pihak baik sektor pemerintah maupun swasta. Semakin banyak masyarakat mengetahui status HIV dan pengobatan ARV dini, hal itu dapat menurunkan epidemi HIV di Indonesia,” ujarnya.

Add Comment