Gerakan Pungut Sampah (GPS) Kota Salatiga Jelang Hari Lingkungan Hidup Sedunia

Sejumlah partisipan ikuti Gerakan Pungut Sampah (GPS) di Area Pasaraya II Salatiga jelang Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Jumat (12/7/2019). (Foto : Pemkot Salatiga)

Sidomukti – Menjelang Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia Tingkat Provinsi pada 17 Juli mendatang, Gerakan Pungut Sampah (GPS) telah dilaksanakan oleh 500 partisipan di area Pasaraya II, Jumat (12/7/2019). Dibuka oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Salatiga, Fakruroji, GPS dilakukan di enam zona sepanjang Jalan Jenderal Sudirman, termasuk membagikan tempat sampah, tas belanja, dan plastik ramah lingkungan kepada masyarakat yang turut hadir.

Tema kegiatan tahun ini adalah “Beat Air Pollution” atau “Biru Langitku, Hijau Bumiku” yang ditetapkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia, yaitu upaya yang berfokus menangani emisi kendaraan dan memperketat konsentrasi parameter polusi udara.

Fakruroji menyatakan, Indonesia saat ini menjadi salah satu negara yang memproduksi sampah plastik terbesar, yakni sebanyak 67 ton di tahun 2018. Tentu saja hal itu mengundang banyak perhatian sehingga digencarkan kampanye peduli lingkungan.

Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa kampanye cinta lingkungan butuh mendapat banyak dukungan dan partisipasi masyarakat. Selain itu, untuk mengurangi sekaligus mengendalikan sampah, masyarakat harus bersinergi dan melaksanakannya secara berkelanjutan.

“Meskipun kita sudah memiliki petugas kebersihan yang telah sejak dini hari bekerja, namun kita harus senantiasa meningkatkan kesadaran bahwa kebersihan adalah tanggung jawab kita bersama,” ujarnya, seperti dilansir dari salatiga.go.id.

Fakruroji menambahkan, puncak acara Perayaan Hari Lingkungan Hidup Tingkat Provinsi Jawa Tengah akan digelar di Taman Kota Bendosari, Jalan Lingkar Selatan, Salatiga. Nantinya, acara tersebut akan dihadiri Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, sebagai pembicara “Dialog Interaktif dengan Pelajar”. Akan dimeriahkan pula Paduan Suara SMA Negeri 1 Salatiga dan parade drumblek.

Gerakan Pungut Sampah Ciptakan Budaya Hidup Bersih

2014 silam, Walikota Bandung, Ridwan Kamil, memperkenalkan Gerakan Pungut Sampah (GPS) selama 10 hingga 30 menit, tiga hari dalam seminggu. Ditetapkan hari Senin, Rabu, dan Jumat. Dengan durasi tersebut, setidaknya terdapat 100 hingga 300 meter lahan yang dibersihkan.

Pria yang akrab disapa Kang Emil ini berpendapat, GPS adalah upaya agar masyarakat membiasakan diri menjaga kebersihan di lingkungan dengan memungut sampah di sekitarnya. Apabila dijalankan terus-menerus, nantinya gerakan tersebut akan menjadi budaya rutin.

Kuncinya, mulai dari pemimpinnya hingga warganya harus melakukan hal yang sama. Karena pemerintah tidak bisa mengurusi yang sifatnya rutin seperti sampah ini,” terang Kang Emil.

Selain GPS di Bandung, banyak sekali komunitas pecinta lingkungan yang beraksi untuk memperkenalkan GPS dan mengedukasi kepada masyarakat. Biasanya, di acara-acara umum dan terbuka seperi Car Free Day (CFD), dapat dijumpai segerombolan orang yang membawa peralatan kebersihan untuk memungut sampah. Termasuk di CFD Slamet Riyadi Solo, dan CFD Simpang Lima Semarang.

Dikutip dari kompas.com, ada Komunitas Pelangi Samudera Solo yang berpartisipasi memungut sampah di sepanjang Jalan Slamet Riyadi, Solo. Di CFD Simpang Lima, ada Komunitas Karung yang menenteng karung atau kantong plastik besar wadah sampah plastik di sepanjang Jalan Pahlawan dan mengitari Bundaran Simpang Lima.

CFD bisa menjadi alternatif bagi pemerintah maupun komunitas untuk mengajak masyarakat tentang kebersihan lingkungan dan menciptakan budaya hidup sehat.

Add Comment