Kelurahan Kalicacing Terapkan Perpustakaan Berbasis SLiMS

Petugas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Salatiga saat memberikan arahan kepada petugas Kelurahan Kalicacing terkait penerapan perpustakaan berbasis SLiMS. (Foto : Dispersip Salatiga)

Sidomukti – Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Salatiga No. 420/259/2016, Kelurahan Kalicacing, melakukan revitalisasi perpustakaan. Sebelumnya, pengelolaan masih bersifat konvensional, sekarang pihak kelurahan mengupayakan terobosan pengelolaan perpustakaan berbasis Senayan Library Management System (SLiMS).

SLiMS merupakan aplikasi digital untuk memudahkan pengelola dan penggunaan perpustakaan. Pengguna dapat mengakses katalog Koleksi Perpustakaan Kelurahan Kalicacing melalui ponsel pintar.

Pada 2018 lalu, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispersip) Kota Salatiga meluncurkan aplikasi berbasis android, Salatiga Mobile Library’, yang dapat diunduh gratis melalui Google Playstore, atau dapat diakses melalui ucs.salatiga.go.id.

Kepala Dispersip Kota Salatiga, Slamet Setyo Budi, menjelaskan, penerapan SLiMS di Kelurahan Kalicacing merupakan bentuk kerjasama dan sinergitas antar departemen pemerintah dalam mewujudkan Salatiga Kota Literasi.

“Kedepannya, semoga Perpustakaan Kelurahan Kalicacing dapat menjadi Pilot Project pengembangan perpustakaan kelurahan berbasis aplikasi bagi perpustakaan kelurahan di Salatiga,” harapnya.

Dikutip dari dispersip.salatiga.go.id, adanya SLiMS, Camat Sidomukti, Agung Pitoyo, berpendapat, manajemen perpustakaan dapat dilakukan lebih modern, sehingga pengelolaan menjadi lebih mudah, terutama bagi pengguna.

“MLiMS memudahkan masyarakat untuk meminjam dan mangakses berbagai judul dan koleksi di perpustakaan kelurahan, sekaligus mendekatkan buku sebagai jendela ilmu pengetahuan kepada masyarakat,” terangnya.

Perpustakaan Kelurahan dapat Tumbuhkan Jiwa Literasi

Pada Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan, Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Muhammad Syarif Bando, menyampaikan, Indonesia memiliki 164.610 perpustakaan. Dengan jumlah itu, Indonesia menempati posisi kedua sebagai negara yang memiliki perpustakaan terbanyak, satu peringkat di bawah India dengan 323.605 perpustakaan.

Namun, berdasarkan hasil survei lembaga dunia, Indonesia berada dalam level rendah terkait literasi. Tidak heran apabila kemudian muncul Peraturan Daerah No.1 Tahun 2018 Tentang Pengelolaan Perpustakaan Desa/Kelurahan bagi Para Kades/Kalur, Ketua BPD dan LKMK, seperti yang disosialisasikan Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi.

Ia menjelaskan, aturan yang tercantum dalam Pasal 14 bahwa setiap desa atau kelurahan wajin mendirikan perpustakaan sebagai pusat pembelajaran bagi masyarakat. Menurutnya, dengan adanya perpustakaan di desa atau kelurahan, maka hal itu dapat menumbuhkan jiwa literasi masyarakat yang otomatis dapat meningkatkan kualitas SDM.

“Perpustakaan dapat menunjang kegiatan pembelajaran bagi warga desa, dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat sekitar,” terang Tiwi, seperti dikutip lintas24.com.

Hadirnya perpustakaan di pusat pemerintahan desa atau kelurahan agaknya menjadi langkah efektif, sebab masyarakat bisa mengakses buku dekat dari rumah, dan tidak harus pergi ke pusat kota atau kabupaten.

Add Comment