Kembangkan Ekonomi dengan Resmikan Tiga Pasar Sekaligus

Walikota Salatiga meresmikan tiga pasar dan Gedung metrologi legal kota Salatiga di pasar Andong jalan Osamaliki Salatiga. (Foto : Pemkot Salatiga)

Sidomukti – Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan kecintaan terhadap pasar tradisional, walikota salatiga meresmikan tiga pasar sekaligus di wilayah Salatiga. Ketiga pasar tersebut yaitu pasar Andong, pasar Krenceng, dan pasar Sayangan. Peresmian pasar bertempat di Pasar Andong, jalan Osamaliki Kelurahan Mangunsari Salatiga, Selasa (9/7/2019).

Sejak tahun 2018 Dinas Perdagangan telah merampungkan revitalisasi tiga pasar tradisional di Salatiga yaitu pasar Andong, pasar Krenceng, dan pasar Sayangan. Pasar Andong yang terletak di jalan Osamaliki kelurahan Mangunsari kota Salatiga dibangun sejak tahun 2017 dengan jumlah alokasi dana sebesar Rp. 1.052.619.000,-. Dana tersebut berasal dari Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp. 681.377.000,00,- dan APBD Kota Salatiga sebesar Rp. 371.242.000,-. Pada tahun 2018  mendapat dana dari APBD Kota sebesar Rp. 1.294.085.000,-. Pasar Andong berdiri dengan kapasitas 21 kios dan 160 los disamping 33 kios yang telah ditempati pedagang saat ini. Pasar Andong, diklasifikasikan sebagai pasar khusus yang memperjualbelikan barang bekas dan aksesoris. Terletak di jalan Osamaliki kelurahan Mangunsari kota Salatiga.

Pasar sayangan yang diklasifikasikan dalam jenis pasar umum terletak di jalan patimura kelurahan Salatiga Kecamatan Sidorejo. Pasar ini dibangun 2 lantai dengan kapasitas lantai dasar 5 kios dan 17 los. Sedangkan lantai 1 dikhususkan untuk kuliner berkapasitas 7 kios. Dibangun pada tahun 2018 dengan anggaran sebesar Rp. 2.098.788.000,- yang bersumber dari DAK.

Sedangkan pasar Krenceng, diklasifikasikan dalam jenis pasar umum. Terletak di jalan imam bonjol Kelurahan Kecandran Kecamatan Sidomukti. Pasar ini dibangun menjadi 2 tahap. Tahap pertama dibangun dengan 24 kios dan los dengan alokasi anggaran Rp.2.920.163.000,- bersumber dari DAK. Sedangkan untuk tahap kedua masih  berjalan dengan menyelesaikan pembangunan 32 kios dan finishing los berkapasitas 60 los dengan alokasi dana sebesar Rp. 1.000.000.000,-.

Selain ketiga pasar tersebut, walikota salatiga juga meresmikan Gedung metrologi legal kota Salatiga. Pemerintah juga akan menyelesaikan pembangunan pasar tradisional yang lain di Salatiga.

“Untuk pasar yang lain seperti pasar Jetis dan Rejosari, tentunya mohon doa restu dan dukungan agar segera dibangun. Harapanya semua pasar di salatiga akan tampil bersih, lebih hygenis, tidak kumuh dan  tidak becek. Sehingga masyarakat tidak enggan berbelanja,” terang Walikota Salatiga, Yuliyanto, S.E, M.M.

Manfaatkan Teknologi

Selain untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota Salatiga, peresmian tiga pasar tradisional ini juga menjadi komitmen pemerintah dalam menata wajah kota. Yang dimaksudkan dengan wajah kota bukan hanya tentang trotoar dan taman kota namun juga kondisi pasar.

Pemanfaatan teknologi juga diterapkan disini yakni dengan memanfaatkan e-restribusi. Ini adalah bagian dari kewajiban pedagang untuk membayar restribusi yang disetor ke PAD kota Salatiga. Dimana hasilnya akan akan berputar kembali untuk masyarakat.

“Pedagang yang sudah membayar, saya ucapkan terima kasih karena sudah bertanggungjawab atas kewajiban yang harus dibayarkan. Sehingga potensi dari pasar akan meningkat kembali. Harapan saya bahwa dengan adanya kesadaran yang baik akan berimbas untuk  kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat nanti,” imbuhnya.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perdagangan Kota Salatiga Ardiyantara, SH, MH menambahkan bahwa para pedagang juga ditertibkan secara administrasi dengan melakukan validasi pedagang pasar yakni dengan pemberian Surat Izin Penempatan (SIP), Kartu Tanda pengenal Pedagang (KTPP), dan perjanjian pemakaian aset daerah serta pemberian kartu e-restribusi.

Dirinya juga mengajak masyarakat untuk bersama-sama merawat setelah pembangunan pasar tersebut selesai. Selain itu mereka juga diajak untuk memperbaiki fasilitas pasar dan pembenahan manajeman pengelolaan serta perilaku pedagang di dalamnya. Banyak kalangan mengatakan keberadaan pasar tradisional mulai tersingkir karena banyaknya toko serba ada, supermarket atau mall.

“Saya harap dengan adanya pasar baru ini masyarakat bisa lebih senang berbelanja disini. Karena pasar tersebut tidak kalah dengan mall karena tempatnya sudah bersih, tidak kotor dan tidak becek. Harapannya, minat pedagang juga semakin besar dan pasar tradisional kian ramai dengan penataan yang baik pula,” jelas Ardiantara.

Add Comment