Peringatan Harganas, Yulianto Ajak Masyarakat Salatiga Lakukan Gerakan 1821

Walikota Salatiga, Yulianto, saat memberikan sambutan di Upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke XXVI Tahun 2019 di Halaman Kota Salatiga. (Foto : Pemkot Salatiga)

Sidomukti – Di zaman modern, hubungan keluarga antara orang tua dan anak terbilang berjarak dan kurang harmonis. Untuk itu, Walikota Salatiga, Yulianto, menyampaikan pentingnya “Gerakan 1821″ pada upacara Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) Tingkat Kota Salatiga Tahun 2019, Senin (8/7/2019).

“Salah satu kegiatan yang digalakkan dalam momentum Harganas XXVI Tahun 2019 adalah Gerakan Kembali ke Meja Makan dan Gerakan 1821. Mulai jam 6 sore sampai 9 malam, anggota keluarga bersama-sama melakukan aktifitas untuk kebersamaan dalam keluarga,” jelasnya dalam situs resmi Pemkot Salatiga.

Gerakan 1821 merupakan sebuah upaya sederhana yang bisa dilakukan oleh keluarga untuk mencegah peggunaan gadget secara berlebih, dan mengurangi dampak buruk gadget pada anak, yakni dengan aktivitas bersifat kekeluargaan dalam bentuk interaksi yang lebih personal tanpa gadget dan televisi mulai pukul 18.00 hingga 21.00.

Bertempat di Halaman Pemkot Salatiga, Yulianto juga membacakan sambutan Sekretaris Utama Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Republik Indonesia. Disebutkan bahwa peringatan Harganas mengutamakan peran keluarga dalam menerapkan empat pendekatan ketahanan keluarga.

Yaitu keluarga berkumpul, keluarga berinteraksi, keluarga berdaya, serta keluarga peduli dan berbagi,” papar Yulianto.

Kebersamaan Keluarga untuk Cegah Anak Kecanduan Gadget

Gerakan 1821 pertama kali dicetuskan Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari (Abah Ihsan), seorang Direktur Auladi Parenting School sekaligus International Parenting Speaker. Dalam gerakan tersebut, terdapat metode pendekatan agar orang tua bisa membuat sang buah hati nyaman dan tidak kecanduan gadget.

Metode sederhana itu hanya berupa “Belajar, Bermain, Mengobrol” yang pastinya mudah dilakukan di rumah, bahkan tanpa mengeluarkan banyak biaya dan tenaga. Efektifnya, dilakukan antara pukul 18.00 hingga 21.00, menjauhkan gadget dan televisi dari anak.

Dalam waktu tiga jam, orang tua bisa mengajak anak belajar hal-hal baru yang menyenangkan dan menumbuhkan inspirasi positif, seperti membaca buku, belajar memasak, dan yang lain.

Untuk mengganti game yang semakin digilai anak-anak, orang tua bisa memperkenalkan permainan tradisional, seperti dakon atau congklak, ular tangga, monopoli, dan lain-lain. Dengan begitu, anak tidak hanya akan terpaku pada permainan yang ada di ponsel. Sebab, informasi yang tersedia di internet dapat memengaruhi pikiran dan perilaku anak.

Selain itu, momen mengobrol bisa semakin mendekatkan hubungan orang tua dan anak. Orang tua bisa memahami setiap masalah yang tengah dihadapi anak dan tidak bertindak gegabah menghakimi. Apabila anak merasa diperhatikan, maka tumbuh pula keterbukaan anak kepada orang tua sehingga tidak timbul kesalahpahaman dan bisa mencari jalan keluar bersama-sama.

Menurut Abah Ihsan, seperti yang dilansir dari abahihsan.com, terdapat tiga prinsip dalam memantau penggunaan gadget pada anak, yaitu pendampingan, membedakan antara kebutuhan atau keinginan, dan mengkategorikan usia anak.

“Dengan kedekatan orang tua dan anak melalui Gerakan 1821, orang tua bisa merasa semakin bertanggungjawab, sunguh-sungguh berperan dalam kehidupan anak, dan menyebarkan energi positif,” ujar Abah Ihsan.

Namun demikian, semakin maraknya penyebaran gadget, game, maupun konten negatif yang mudah diakses juga perlu diawasi oleh otoritas yang berwenang. Tidak hanya sekadar memblokir situs-situs berbahaya, namun juga menggiatkan permainan-permainan tradisional non-gadget yang bisa dicontohkan kepada masyarakat, terutama orang tua dan anak.

Add Comment