HAS 2019 Ajang Komitmen Pemerintah dan Masyarakat Peduli HIV/AIDS

Wakil Walikota Salatiga, Muh Haris, dan Rektor IAIN Salatiga, Prof Zakiyuddin (tengah), berfoto bersama para aktivis peduli HIV/AIDS di acara Peringatan Hari AIDS Sedunia 2019, di Halaman Gedung Hasyim Ashari, Kampus III IAIN Salatiga, Jumat (06/12/2019). (Foto: Dinkes Salatiga)

Sidorejo – Hari AIDS Sedunia (HAS) 2019 yang diperingati setiap tanggal 1 Desember menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mengajak masyarakat saling berpartisipasi dalam mengendalikan HIV/AIDS. Hal tersebut dituturkan Wakil Walikota Salatiga, Muh Haris, dalam Peringatan HAS 2019 yang diadakan oleh Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga di Kampus III IAIN Salatiga, Jumat (06/12/2019).

“Masalah HIV/AIDS tidak bisa selesai jika hanya ditangani oleh Pemerintah Kota Salatiga melalui DKK Salatiga. Pemerintah perlu menggandeng institusi lintas sektor untuk berinergi bersama dalam upaya pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS di Kota Salatiga,” ujarnya seperti dilansir dari laman dinkes.salatiga.go.id.

Pada Peringatan HAS tahun ini, mengusung tema “Bersama Masyarakat Meraih Sukses”, diharapkan seluruh lapisan masyarakat agar aktif mendukung program pemerintah mencapai ‘3 Zero’ pada 2030 mendatang.

Program ‘3 Zero’ adalah satu paket pencegahan Zero New Infection (tidak ada infeksi HIV/AIDS baru), Zero AIDS Related Deaths (tidak ada kematian sebab AIDS), dan Zero Discrimination (tidak ada diskriminasi terhadap ODHA).

Acara tersebut dihadiri pula oleh jajaran Forkopimda, Kepala OPD, Camat, Lurah, Kader Kesehatan, Puskesmas, Rumah Sakit, Penguruan Tinggi se-Kota Salatiga, Organisasi Masyarakat dan Organisasi Profesi terkait. Turut hadir memeriahkan acara, Rektor IAIN Salatiga, Prof Dr Zakiyuddin M.Ag dan Wakil DPRD Kota Salatiga, Latif Nahari.

DKK Salatiga tidak hanya mengajak senam bersama, namun peserta yang hadir juga bisa melakukan pemeriksaan kesehatan meliputi cek dahak, cek VCT, pemeriksaan PTM berupa ukur berat badan, lingkar perut, cek tensi, gula darah, asam urat, dan kolesterol.

Diberikan pula penghargaan oleh bagi sosok peduli HIV/AIDS, yaitu kepada Ngamaliayatul Chabai, Mahasiswi IAIN Salatiga selaku Duta Peduli HIV/AIDS, dr. Fitria Mahanani selaku Ibu Hamil Pejuang Triple Eliminasi, Yuni Ambarwati SH selaku Kepala OPD Peduli HIV/AIDS Kota Salatiga, dan Bunyati selaku Perusahaan Peduli HIV/AIDS dari PT AAJ.

Muh Haris meminta kepada semua pihak untuk meningkatkan kerjasama dan komitmen dalam pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS. “Mari kita tingkatkan kerjasama dan komitmen untuk mengeliminasi HIV/AIDS sejak dini untuk mencetak generasi sehat dan unggul,” pesannya.

Remaja Indonesia harus “STOP” penyebaran IMS

Dikutip dari bogor.pojoksatu.id, data dari UNAIDS di tahun 2017 menunjukkan jumlah kematian akibat AIDS sebanyak 940.000 kasus di seluruh dunia dengan rincian 830.000 pada orang dewasa, 110.000 lainnya pada usia anak-anak dan remaja.

Sementara dari data UNAIDS 2018, Indonesia menempati posisi ketiga sebagai wilayah dengan 620.000 pengidap HIV/AIDS terbanyak di seluruh dunia dengan total penderita 5,2 juta jiwa di kawasan Asia Pasifik. Data dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Republik Indonesia di tahun 2018 menunjukkan angka 301.959 jiwa yang didominasi kalangan berusia 25-49 tahun.

Maka dari itu, perlu diadakan edukasi pencegahan terkait bahaya penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS), terutama bagi kalangan remaja. Pada Peringatan HAS 2019 ini, Kemenkes mengadakan mengadakan dialog interaktif dengan mahasiswa dan pelajar di Aula Siwabessy, Gedung Kemenkes, Jakarta.

Kasubdit HIV/AIDS dan PIMS Kemenkes, Dr Sedya Dwisangka sebagai narasumber memaparkan, tujuan dari kegiatan tersebut adalah sarana edukasi kepada masyarakat khususnya remaja agar terhindar dari penyakit menular. “Tujuannya agar orang-orang bisa menghindari, remaja kita bisa terhindar dan tahu bahwa ini sangat beresiko,” terangya.

Sedya menjelaskan, langkah pencegahan IMS adalah “STOP”. Yaitu “Suluh”, memaparkan apa saja yang beresiko dan juga faktor-faktornya. “Temukan”, yaitu langkah indikasi berupa tes kesehatan. “Obat” untuk penanganan, dan “Pertahankan” yang artinya tahap pengobatan atau penyembuhan harus diperhatahankan.

Terdapat beberapa jenis IMS di antaranya adalah Sifilis (Raja Singa), Gonore atau kencing nanah, Kutil Kelamin, Herpes Simpleks, Hepatitis B, dan HIV/AIDS. Data dari World Health Organization (WHO) menyebutkan penderita di Indonesia jumlahnya terus meningkat sebanyak 4.000 kasus pada 2011-2016. Sejumlah 630.000 orang diperkirakan sudah terinfeksi HIV/AIDS dengan prevalensi individu 15-49 tahun mencapai 0,3 persen.

 

Add Comment