IAIN Salatiga Ajak Mahasiswa Kembangkan Soft Skill

Prof Zakiyuddin saat memaparkan materi dalam kegiatan Orientasi Mahasiswa Bidikmisi IAIN Salatiga, di Auditorium Gedung KH Ahmad Dahlan, Sabtu (07/12/2019). (Foto: IAIN Salatiga)

Sidorejo – Pada kegiatan Orientasi Mahasiswa Bidikmisi (OMB) di Auditorium Gedung KH. Ahmad Dahlan, Kampus III IAIN Salatiga, Sabtu (07/12/2019) lalu, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama, Dr. Sidqon Maesur menyebutkan pentingnya soft skill di samping tugas utama menimba ilmu.

Soft skill itu perlu. Seperti kemampuan berkomunikasi, menyampaikan sesuatu, kemampuan sosial, berteman, mencari relasi, dan leadership perlu untuk diasah,” ungkapnya saat memberikan sambutan di hadapan 179 mahasiswa Bidikmisi.

Menurut Sidqon, hard skill dan soft skill harus berjalan beriringan. Sebab, seseorang yang menguasai keduanya akan dengan mudah menyampaikan pendapat maupun pemikirannya. Ilmu pengetahuan dan gagasannya akan tersampaikan dengan baik, dalam hal akademik maupun non-akademik.

Bertemakan “Aktualisasi Peran Mahasiswa Bidikmisi dalam Menyongsong Indonesia Emas 2045”, Rektor IAIN Salatiga, Prof Zakiyuddin pun menyampaikan materinya terkait dengan pentingnya memperhatikan asal-asul ilmu.

“Perkembangan teknologi yang pesat saat ini harus dimanfaakan dengan baik. Teknologi mempermudah kita mendapatkan ilmu, tapi yang harus diingat adalah asal-usul atau sanad drai ilmu yang didapat,” terangnya seperti dilansir dari laman IAIN Salatiga.

Soft Skill sebagai Penunjang Kesuksesan Karir

Paul Petrone, Editor LinkedIn Learning, jejaring sosial para profesional, mengungkapkan peran soft skill yang kian dibutuhkan perusahaan dibanding hard skill, karena menjadi kemampuan kritis dalam bisnis.

“Sekitar 57% pemimpin senior perusahaan menyatakan soft skill lebih kritis dalam bisnis mereka daripada hard skill. Soft skill sangat sesuai dengan kebutuhan tempat kerja yang digital, kecerdasan buatan atau artificial inteligence, dan cloud computing untuk menghadapi tuntutan baru,” terangnya.

Soft skill yang paling banyak dicari adalah kreativitas, persuasi, kemampuan beradaptasi dan manajemen waktu sebagai navigasi dunia yang dinamis ini. Sebab, solusi kemarin tidak akan dapat menyelesaikan masalah esok.

Tidak heran apabila Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Mohammad Nasir, mengatakan bahwa hard skill tidak lagi menjadi satu-satunya kemampuan yang harus dimiliki di era digital. Soft skill sangat dibutuhkan untuk mengembangkan karir dengan cara mengaplikasikan kemampuan akademik dalam dunia kerja.

Soft skill seperti kerja sama, komunikasi, etika dalam bekerja, penampilan, empati, dan kecerdasan emosional itu penting untuk kesuksesan karir atau bisnis bila dibandingkan dengan hasil akademik,” terangnya.

Add Comment