Yulianto: Cegah AKI dan AKB adalah Tanggung Jawab Bersama

Walikota Salatiga, Yulianto, berfoto bersama peserta dan pemateri kegiatan Desiminasi Hasil Kajian Audit Maternal Perinatal (AMP) di Hotel Grand Wahid, Rabu (04/12/2019). (Foto: DKK Salatiga)

Sidorejo  – Untuk mencegah kenaikan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB), perlu adanya sinergi tugas bersama dari berbagai pihak. Tidak hanya pemerintah, namun juga lintas sektor maupun organisasi terkait. Hal tersebut disampaikan oleh Walikota Salatiga, Yulianto, bahwa kematian ibu dan anak menjadi fokus dan tanggung jawab bersama.

“Ini tidak hanya tanggung jawab Pemerintah Kota Salatiga melalui Dinas Kesehatan Kota (DKK) Salatiga, tetapi juga tanggung jawab semua pihak yang bersinggungan dengan pelayanan kesehatan ibu hamil dan anak. Puskesmas, posyandu, dan klinik menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan dengan menerapkan standar pelayanan kesehatan yang berlaku,” terangnya dalam sambutan kegiatan Desiminasi Hasil Kajian Audit Maternal Perinatal (AMP) di Hotel Grand Wahid, Rabu-Kamis (04-05/12/2019).

AMP merupakan kegiatan mencaritahu sebab kematian atau kesakitan ibu, perinatal dan neonatal guna mencegah kesakitan dan kematian pada penderita. Tujuan diadakannya AMP adalah mendiskusikan penyebab dan faktor terkait AKI dan AKB, sekaligus menentukan jenis intervensi dan pembinaan yang diperlukan.

Bersumber dari situs DKK Salatiga, kegiatan tersebut dihadiri 40 bidan Rumah Sakit dan Puskesmas se-Kota Salatiga. Di hari pertama, hadir sebagai narasumber adalah Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat, Suparli, dan pada hari kedua dari pihak Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, Agung Supriandono, M. Syaifulhaq, dan Wahyu Setianingsih.

Yulianto berpesan, agar seluruh tenaga medis memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat. “Seluruh tenaga dan fasilitas pelayanan kesehatan di Kota Salatiga semoga kedepannya memberikan pelayanan yang baik bagi masyarakat sehingga tercipta Kota Salatiga yang sehat, ibu hamil dan melahirkan dalam kondisi sehat untuk menciptakan generasi sehat,” tuturnya.

Cegah AKI dan AKB dengan P4K

Dalam acara Kampanye Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) di Pengggunaan Buku KIA di Jakarta, (03/02/2010), Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Ratna Rosita Hendardji, menyampaikan, perlu upaya percepatan yang lebih besar dan kerja keras untuk menekan angka AKI dan AKB.

“Surga ada di bawah telapak kaki ibu, pepatah ini menunjukkan betapa pentingnya posisi ibu di masyarakat, namun kenyataannya perhatian terhadap keselamatan ibu saat melahirkan masih perlu ditingkatkan, demikian pula bayi yang dilahirkan harus sehat dan tumbuh kembang dengan baik,” ujarnya.

Dilansir dari situs resmi Kemenkes RI, Penyebab AKI dan AKB bisa jadi oleh faktor fisik, namun juga bisa disebabkan oleh kondisi masyarakat seperti pendidikan, sosial ekonomi, budaya, geografis, dan sarana-prasarana yang menjadikan ibu hamil dan melahirkan terlambat ditangani. Keterlambatan tersebut bisa dicegah dengan pengambilan keputusan ketika ibu sudah mengetahui tanda bahaya kehamilan dan persalinan serta tindakan yang diperlukan.

Maka, terobosan berupa P4K dinilai terbukti mampu meningkatkan indikator proksi (persalinan oleh tenaga kesehatan) untuk menurunkan angka AKI dan AKB. P4K juga dapat meningkatkan peran aktif Suami Siaga, keluarga, dan masyarakat dalam merencanakan persalinan yang aman, persiapan menghadapi komplikasi pada saat kehamilan, dan perencanaan pemakaian alat atau obat kontrasepsi paska persalinan.

“Program P4K juga mendorong ibu hamil untuk memeriksakan kehamilan, bersalin, pemeriksaan nifas dan bayi yang dilahirkan oleh tenaga kesehatan terampil, termasuk skrining status imunisasi tetanus lengkap pada setiap ibu hamil. Kaum ibu juga didorong untuk melakukan inisiasi menyusu dini (IMD), dilanjutkan pemberian ASI eksklusif selama enam bulan,” lanjut Ratna.

Add Comment