Tadabbur Al-Quran: Relevansi Nilai Universal dan Kearifan Lokal

Pengajian Akbar Pondok Pesantren Nurul Madani, Pulutan, Sidorejo Kota Salatiga./FACEBOOK: sofyan.mohammad.180

Pengajian Akbar siang itu (Senin, 28 Februari 2022) diselenggarakan oleh Pondok Pesantren Nurul Madani, Pulutan, Sidorejo Kota Salatiga dalam rangka khataman Kitab Al Ibriz, Haul Masyayikh NU, Harlah NU dan peringatan Isra’ Mi’raj.

Acara yang berlangsung di halaman Masjid Asy Syarqowi dengan menghadirkan penceramah KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) itu dihadiri oleh ribuan jamaah nahdliyin-nahdliyat.

Tratak yang dihias dengan kain putih yang berdiri di halaman masjid penuh sesak oleh para jamaah. Di panggung utama duduk para masyayikh PCNU Kota Salatiga. Di sepanjang jalan area masjid juga menyemut para jamaah yang duduk di pinggir sungai atau tepi jalan.

Siang itu cuaca hanya mendung saja, rintik hujan seakan enggan untuk jatuh dari langit sampai acara selesai. Sehingga meski saling berjubel namun para jamaah nampak tidak kegerahan.

Pengajian berlangsung secara tertib dan aman meski saling berjubel, namun protokol kesehatan tetap diterapkan. Panitia menyediakan masker, desinfektan maupun thermogun untuk cek suhu bagi jamaah menuju pintu area pengajian.

Pengajian siang itu adalah pengajian yang dapat mencerahkan umat di tengah situasi pandemi yang belum juga usai. Di tengah kehidupan umat beragama yang masih belum ideal untuk hidup secara harmoni dalam sikap toleransi sebagai way of life (pandangan hidup) maupun di tengah kehidupan berbangsa dan bernegara yang belum sepenuhnya tercipta kesejahteraan masyarakat. Namun demikian pengajian akbar siang itu semoga menjadi salah satu wasilah silaturahmi antar umat yang penuh mabruk.

Dalam dunia pendidikan pesantren di Indonesia yang mempelajari kitab Al Quran (ulumul Qur’an) para santri tentu sudah mengenal berbagai kitab tentang tafsir Al Qur’an. Salah satu kitab tafsir karya ulama Nusantara adalah Kitab Tafsir Al Ibriz yang merupakan Kitab Tafsir Al Qur’an yang bergenre Nusantara. Kitab karya KH. Bisri Musthofa ini penjelasan ayatnya menggunakan bahasa Jawa dengan aksara tulis Arab Pegon.

KH. Bisri Mustofa sendiri adalah ulama yang lahir di Rembang, Jawa Tengah. Beliau lahir pada tahun 1915 dengan nama asli Mashadi putra dari H. Zainal Mustofa dan Aminah. Setelah menunaikan ibadah haji pada 1923, ia mengganti namanya menjadi “Bisri”.

Menurut catatan dalam buku Mutiara Pesantren: Perjalanan Khidmah KH. Bisri Mustofa, karya Achmad Zainal Huda disebutkan sanad keilmuan KH. Bisri Musthofa adalah dari Pesantren Kasingan, Ponpes Tebu Ireng, Jombang (sebagai santri posonan/ pengajian pada bulan suci Ramadhan) yang pada saat itu diasuh langsung oleh K.H. Hasyim Asy’ari, selanjutnya memperdalam ilmunya di Makkah pada 1936 kepada Kyai Bakir, Syekh Umar Khamdan al-Magribi, Syekh Maliki, Syekh Amin, Syekh Hasan Masysyath dan Kiai Abdul Muhaimin.

KH. Bisri Musthofa sebelum wafat pada 16 Februari 1977, beliau telah meninggalkan beberapa karya. Salah satu yang paling populer adalah Kitab Al Ibriz yang mana kitab ini menggunakan metode tahlili atau metode penafsiran Al-Qur’an yang menjelaskan ayat atau surat dengan menguraikan apa yang dimaksud dari substansi ayat dan surat tersebut. Dalam kitab ini juga merujuk atau mengambil referensi dari kitab tafsir mu’tabar seperti Tafsir Jalallain, Tafsir Baidlowi, Tafsir Khozin dan lain sebagainya.

Dalam menguraikan maksud ayat demi ayat, kitab tersebut menggunakan istilah tanbih ketika menjelaskan nasikh mansukh. Menggunakan istilah faidah ketika menjelaskan asbabun nuzul, menggunakan istilah qishosh dan hikayat ketika menjelaskan hari akhir, kisah para nabi dan kisah umat terdahulu. Dengan adanya penulisan tersebut menambah khasanah keilmuan Nusantara dengan kearifan lokal yang begitu dalam dikemas dengan cara yang sangat estetik.

Hampir setiap tahun pesantren-pesantren salaf Aswaja senantiasa melakukan khataman Kitab Al Ibriz seperti halnya di Pondok Pesantren Nurul Madani, Pulutan, Sidorejo, Kota Salatiga yang telah menggelar Pengajian Akbar dalam rangkaian satu diantaranya adalah khataman Kitab Al Ibriz.

Pondok Pesantren yang diasuh oleh KH. Sonwasi Ridwan tersebut telah memasukan pelajaran kepada para santri tentang Kitab Al Ibriz dengan harapan agar para santri mampu memahami akan nilai luhur tradisi dan kebudayaan lokal yang sesuai dengan ajaran Islam. KH. Sonwasi Ridwan yang juga merupakan Rais Syuriah PCNU Kota Salatiga dalam khataman Kitab Al Ibriz itu mengundang KH. Ahmad Mustofa Bisri pengasuh Pondok Pesantren Roudlatuth Tholibin, Rembang yang merupakan anak kandung pengarang kitab tersebut.

Pada pengajian tersebut Gus Mus panggilan akrab KH. Ahmad Mustofa Bisri menyatakan “Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan orang Islam yang kebetulan tinggal di Indonesia. Jadi ya harus berkarakter dan beragama seperti orang Indonesia”, selanjutnya melalui dialek berbahasa Jawa Gus Mus paring dawuh “kita kedah syukur, ing atase adoh seko kampunge Njeng Nabi, sedulur yo dudu, perawakan yo adoh, Njeng Nabi Mancung, awake dewe pesek, kok di paringi iman, percoyo karo piwulange Nabi, sedangkan pamane wae jenenge Abu Lahab, ora percoyo, pokoke nderek-nderek wong pinter, ben ketularan sitik-sitik”.

Gus Mus juga menyampaikan pesan yaitu dalam situasi seperti sekarang yang bermunculan para ustadz dan pendakwah, maka rekam jejak seseorang sangat penting pada saat ini. “Kalau ada orang mengaku kyai atau ustadz, telusuri rekam jejaknya. Dia siapa, dari mana, mondoknya dimana, pesantrennya dimana, kyainya siapa dan lain-lain. Sebab sekarang banyak kyai jadi-jadian”,katanya disambut senyum sumringah para jamaah yang berjubel di pelataran masjid.

Gus Mus adalah alumnus dan penerima beasiswa dari Universitas Al Azhar Kairo Mesir tahun 1964-1970 untuk studi Islam dan bahasa Arab. Sebelumnya beliau menempuh pendidikan di Sekolah Rakayat (SR) 6 tahun di Rembang tahun 1950-1956), Pesantren Lirboyo (kediri, 1956-1958), Pesantren Krapyak (Yogyakarta, 1958-1962), Pesantren Taman Pelajar Islam (Rembang, 1962-1964).

Dalam pengajian tersebut Gus Mus menyampaikan tausiyah panjang lebar terkait muatan yang termuat dalam Kitab Tafsir Al Ibriz yang terhubung dalam pemahaman kearifan lokal dan kontribusi NU dalam visi keumatan dan kebangsaan.

Universalitas Kearifan Lokal

Islam sebagai agama yang rahmatan lil alamin sangat menjaga hubungan baik sesama manusia (hablum minannas) di tengah-tengah kehidupan umatnya agar terjaga persatuan dan persaudaraan yang harmonis. Indonesia memiliki ribuan pulau dengan berbagai etnik tidak dapat disangkal juga memiliki kearifan lokal yang beragam. Kearifan lokal merupakan bagian dari budaya suatu masyarakat yang tidak dapat dipisahkan dari bahasa masyarakat itu sendiri, karena kearifan lokal ini menjadi satu kesatuan dengan masyarakat setempat.

Masyarakat disetiap daerah pun memiliki kearifan lokal yang berbeda-beda, tergantung dengan kultur dan kebiasaan masyarakatnya tersendiri. Kearifan adalah kebenaran yang bersifat universal sehingga jika ditambahkan dengan kata lokal maka bisa mereduksi pengertian kearifan itu sendiri. Setiap kali kita berbicara tentang kearifan maka setiap itu pula kita berbicara tentang kebenaran dan nilai-nilai universal. Menentang kearifan lokal berarti menolak kebenaran universal.

Kebenaran universal itu sesungguhnya akumulasi dari nilai-nilai kebenaran lokal. Tidak ada kebenaran universal tanpa kearifan lokal. Jadi tidak tepat memperhadap-hadapkan antara kearifan lokal dan kebenaran universal dengan mempelajari Al Qur’an secara tepat melalui ulama yang berkompeten di bidangnya.

Maka menjalani ajaran agama Islam adalah sesuatu yang menyenangkan sekaligus menentramkan. Kitab tafsir Al Ibriz adalah salah satu kitab tafsir yang mampu membuka cakrawala optik pemahaman yang tepat untuk mengetahui korelasi antara ajaran Islam dengan kearifan lokal Jawa – Nusantara.

Dengan memahami kearifan lokal sebagai sebuah keluhuran yang relevan dengan ajaran Islam pada kenyataannya NU telah menginisiasi pendidikan toleransi yang lebih substantif dengan mengubah redaksi kafir atau para pemeluk agama di luar Islam menjadi non-muslim dalam pengajaran materi keislaman di pesantren.

Beberapa pesantren yang berafiliasi dengan NU, seperti Pondok Pesantren Nurul Madani, Pulutan, Salatiga yang diasuh oleh KH. Sonwasi Ridwan juga menerapkan pendidikan toleransi yang integratif dengan program pembelajaran pesantren, salah satunya pelajaran tentang Kitab Al Ibriz.

Pengkajian di Ponpes ini tentang konsep toleransi dalam Islam mendasarkan pada referensi matan (tulisan singkat tentang rangkuman hukum Islam), syarah (penjelasan atas matan) dan hasyiyah (penjelasan atas syarah).

Sonwasi Ridwan, BA selaku pengasuh Ponpes Nurul Madani yang sekaligus sebagai Rais Syuriah PCNU Kota Salatiga dalam kesempatan itu menyampaikan relevansi antara konten Kitab Al Ibriz dengan Harlah NU adalah sangat tepat mengingat pada saat ini usia NU sudah 96 tahun sehingga menjelang satu abad tentu banyak tantangan yang harus dijalani NU dalam rangka menjaga marwah kebangsaan dan keumatan.

Lebih lanjut Gus Mus dalam tausiyahnya juga memaparkan NU sebagai Ormas terbesar berkesempatan untuk memelopori upaya reformasi Islam secara masif di tengah masyarakat muslim dunia. Hal ini sebagaimana slogan NU menjelang satu abad membangun kemandirian untuk perdamaian dunia.

Mengkaji Kitab Al Ibriz merupakan upaya konkrit untuk mendapatkan pengetahuan tentang toleransi secara substantif. Jika kemudian NU bisa mengimplementasikan wacana toleransi secara substantif hingga menjadi way of life (pandangan hidup) secara kolektif dan berkesinambungan, maka NU berpeluang besar untuk mendapatkan nobel perdamaian dunia.

Semoga Allah SWT meridhoi.

Ditulis oleh: Sofyan Mohammad

Add Comment